Infodagang.com, PATI — Isu perubahan iklim dan dampaknya terhadap kebencanaan menjadi sorotan utama Pemerintah Kabupaten Pati
Bupati Pati, Sudewo, menegaskan urgensi peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai isu ini, khususnya setelah menyoroti keterbatasan daerah dalam menangani bencana spesifik seperti rob (banjir rob).
Dalam Workshop Pemaparan Hasil Kajian Dampak Bencana dan Perubahan Iklim, yang diselenggarakan di Hotel Safin Pati, Bupati Sudewo menyampaikan apresiasi tinggi kepada Yakkum Emergency Unit (YEU) Jogja.
Workshop ini berfokus pada rencana pembangunan program di empat desa yang dinilai sangat rentan di Kabupaten Pati dan diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam isu kebencanaan.
“Pengetahuan mengenai dampak bencana dan perubahan iklim ini sangat penting, terutama bagi empat desa di dua kecamatan yang secara berkala mengalami bencana, utamanya adalah rob,” ujar Sudewo di hadapan para pemangku kepentingan.
Sudewo juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan solidaritas regional Pemkab Pati. Ia menyinggung upaya pengiriman bantuan logistik ke wilayah Sumatra yang tengah dilanda musibah besar.
Langkah ini, menurutnya, mendapatkan apresiasi positif dari Gubernur Jawa Tengah dan Menteri Dalam Negeri.
Meskipun Pemkab Pati berkomitmen penuh dalam upaya mitigasi, Sudewo secara transparan mengakui adanya batasan kewenangan dan kapasitas, terutama terkait penanganan bencana alam tertentu.
Ia menjelaskan bahwa untuk banjir yang terjadi di wilayah daratan seperti Jakenan, Batangan, dan Sukolilo, pemerintah daerah masih mampu melakukan langkah antisipasi dan penanggulangan.
Namun, tantangan utama muncul dalam menghadapi bencana rob yang melanda empat desa pesisir tersebut.
“Terkait rob, Pemerintah Kabupaten Pati tidak memiliki daya, tidak punya kemampuan untuk menanggulangi dan menghentikan fenomena ini,” tegasnya, mengindikasikan bahwa penanganan rob memerlukan intervensi dan sumber daya dari tingkat yang lebih tinggi.
Menutup sambutannya, Bupati Sudewo kembali menekankan bahwa di tengah keterbatasan penanggulangan fisik, peningkatan pengetahuan perubahan iklim berfungsi sebagai garis pertahanan pertama atau kewaspadaan dini bagi masyarakat.
“Pada forum ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lembaga YEU dari Jogja, yang telah luar biasa berkontribusi besar untuk misi kemanusiaan dan edukasi ini,” pungkas Sudewo, berharap edukasi yang diberikan YEU dapat meningkatkan kesiapsiagaan komunitas menghadapi ancaman iklim di masa depan. (red)






Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE