Infodagang.com, PATI – Laporan realisasi anggaran tahun 2025 menunjukkan dinamika fiskal yang kontras di wilayah eks-Karesidenan Pati.
Berdasarkan data terbaru di situs Kemenkeu RI, Kabupaten Rembang berhasil mencatatkan performa efisiensi terbaik, sementara Kabupaten Pati menjadi satu-satunya wilayah yang harus menghadapi rapor merah dalam keseimbangan fiskal.
Rembang: Sang Jawara Surplus
Meskipun memiliki angka Pendapatan Daerah terendah di angka Rp1.754,56 Miliar, Kabupaten Rembang justru tampil sebagai wilayah paling “sehat” secara manajerial.
Dengan belanja yang hanya dipatok sebesar Rp1.550,77 Miliar, Rembang mengantongi surplus sebesar Rp203,79 Miliar.
Angka ini melampaui capaian Grobogan dan Jepara, menunjukkan bahwa efisiensi penyerapan anggaran di Rembang sangat terjaga di tengah keterbatasan pendapatan.
Anomali Pati: Pendapatan Tertinggi, Namun Defisit
Kabupaten Pati mencatatkan angka Pendapatan Daerah tertinggi di antara enam kabupaten lainnya, yakni mencapai Rp2.645,49 Miliar.
Namun, ambisi pembangunan atau beban operasional yang tinggi membuat Belanja Daerah Pati membengkak hingga Rp2.686,21 Miliar.
Akibatnya, Pati mengalami defisit sebesar Rp40,72 Miliar. Ini merupakan satu-satunya angka negatif dalam tabel performa keuangan tahun 2025, yang menandakan ketergantungan pada pembiayaan eksternal atau penggunaan SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) tahun sebelumnya.
Perbandingan Kinerja Fiskal 2025
Berikut adalah rincian performa keuangan daerah (dalam Miliar Rupiah):
| Daerah | Rasio Surplus/Defisit | Visualisasi Performa |
|---|---|---|
| Rembang | 11.61% |
|
| Grobogan | 8.63% |
|
| Jepara | 7.56% |
|
| Blora | 3.01% |
|
| Kudus | 0.82% |
|
| Pati | -1.54% |
Defisit Anggaran |
Kudus dan Strategi “Tight Budgeting”
Kabupaten Kudus terpantau menerapkan strategi anggaran yang sangat ketat (tight budgeting).
engan pendapatan sebesar Rp2.319,40 Miliar dan belanja Rp2.300,36 Miliar, Kudus hanya menyisakan margin tipis sebesar Rp19,04 Miliar.
Angka ini menunjukkan bahwa Kudus memaksimalkan hampir seluruh pendapatannya untuk belanja publik, namun memiliki risiko likuiditas jika terjadi guncangan ekonomi mendadak.
Kesimpulan Analisis
Secara keseluruhan, total surplus dari enam kabupaten ini masih menunjukkan tren positif bagi ekonomi regional.
Namun, defisit yang dialami Pati menjadi catatan penting bagi pembuat kebijakan di level provinsi untuk mengevaluasi apakah besarnya belanja tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di lapangan. (red)







Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE