Saham yang Layak Dikoleksi untuk Investasi Jangka Panjang di Bulan Januari 2026
0:00
--:--
Saham yang Layak Dikoleksi untuk Investasi Jangka Panjang di Bulan Januari 2026
Eksplorasi INFODAGANG.COM
Infodagang.com / Market

Saham yang Layak Dikoleksi untuk Investasi Jangka Panjang di Bulan Januari 2026

X
Saham yang Layak Dikoleksi untuk Investasi Jangka Panjang di Bulan Oktober 2025
Baca 11 detik
  • Volatilitas IHSG awal Okt 2025 jadi momentum tepat akumulasi saham fundamental kuat.
  • Fokus investasi jangka panjang disarankan, beli bertahap saat terjadi koreksi harga.
  • Sektor keuangan, konsumer defensif, komoditas, infrastruktur jadi pilihan portofolio.

Infodagang.com, JAKARTA – Di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak di level 8.200-an pada awal Oktober 2025, para analis pasar modal sepakat bahwa ini adalah momentum yang tepat bagi investor jangka panjang untuk melakukan aksi akumulasi beli (buy on weakness) pada saham-saham dengan fundamental kuat.

Beberapa saham blue chip dan saham di sektor defensif maupun berbasis komoditas diperkirakan akan menjadi penopang utama portofolio investasi Anda di kuartal IV tahun ini.

Berikut adalah sektor dan saham yang direkomendasikan untuk koleksi di bulan Januari 2026:

Sektor Keuangan (Perbankan Big Caps)

Sektor perbankan besar (big caps) tetap menjadi tulang punggung investasi di Indonesia.

Meskipun terkadang mengalami koreksi harga, fundamental yang solid, tingginya rasio Dana Pihak Ketiga (DPK), dan potensi pembagian dividen yang rutin menjadikannya pilihan utama.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Dijuluki blue chip favorit, BBCA memiliki struktur pendanaan yang sangat sehat dengan dominasi dana murah (CASA). Koreksi harga jangka pendek dinilai sebagai peluang beli oleh banyak analis, mengingat target harga konsensus yang masih menunjukkan potensi kenaikan signifikan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), Didukung oleh segmen mikro yang kuat dan komitmen Pemerintah dalam penyaluran kredit, BBRI tetap menjadi saham perbankan yang likuid dan stabil.

Sektor Konsumer Non-Siklikal (Defensif)

Sektor ini sangat diunggulkan karena produknya merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ekonomi. Sektor ini cocok untuk investasi yang mencari stabilitas laba.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), Memiliki merek-merek kuat yang menguasai pangsa pasar. Kinerja diprediksi stabil di tengah fluktuasi harga komoditas global berkat strategi hedging dan penetapan harga yang efektif.

PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), Meskipun sempat tertekan, UNVR memiliki merek yang melekat kuat di masyarakat. Rencana restrukturisasi dan efisiensi operasional diharapkan memberikan dampak positif pada kinerja jangka panjang.

Sektor Komoditas & Energi (Nickel & Emas)

Dengan fokus global pada transisi energi dan kendaraan listrik (EV), saham-saham yang berhubungan dengan nikel dan mineral strategis lainnya tetap memiliki prospek cerah.

PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), Memiliki diversifikasi bisnis yang kuat, terutama di emas dan mineral lain. Prospek jangka panjang didukung oleh kenaikan harga komoditas logam dan pengembangan proyek baru.

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), Pemain utama di sektor pertambangan mineral milik negara. Keuntungan berpotensi terdorong oleh proyek baterai EV yang terus bergulir di Indonesia.

Sektor Infrastruktur & Digital

Sektor ini masih menjadi fokus pemerintah dan investor untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), Dominasi di pasar telekomunikasi dan potensi pertumbuhan di bisnis data serta infrastruktur menara. Dianggap sebagai saham defensif yang stabil.

Peringatan Penting (Disclaimer):

  1. Strategi Koleksi: Saham-saham di atas lebih cocok untuk strategi investasi jangka panjang (investing), bukan hanya untuk trading jangka pendek. Lakukan pembelian secara bertahap (dollar-cost averaging).
  2. Analisis Mandiri: Investor wajib melakukan analisis mandiri (Do Your Own Research – DYOR) sebelum membuat keputusan investasi. Perhatikan rasio keuangan seperti P/E Ratio, PBV, dan utang perusahaan.
  3. Koreksi Harga: Manfaatkan koreksi harga jangka pendek (buy on weakness) sebagai peluang untuk masuk ke harga yang lebih baik.

Keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing investor.

Advertisement

Next Article

Harga Jahe di Pati Stabil di Awal Kuartal IV 2025

Traktir Jurnalis Kopi
Suka dengan tulisan jurnalis ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan berita berkualitas.
Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar.
×

Dukung Jurnalisme Kami

Pilih nominal dukungan Anda untuk menyemangati tim redaksi kami.

Rp 10k
Rp 25k
Rp 50k
Secure Payment by DOKU

Halo Pembaca!

Iklan membantu kami membiayai jurnalisme berkualitas. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan Ad-Blocker kamu di situs ini ya. Terima kasih! 🙏

Lanjut Membaca? Kembali ke posisi terakhir Anda.