Rapor APBD 2025: 5 Kabupaten Surplus, Pati Defisit Sendiri
0:00
--:--
Rapor APBD 2025: 5 Kabupaten Surplus, Pati Defisit Sendiri
Eksplorasi INFODAGANG.COM
Infodagang.com / Ekonomi

Rapor APBD 2025: 5 Kabupaten Surplus, Pati Defisit Sendiri

X
Ilustrasi berita: Rapor APBD 2025: 5 Kabupaten Surplus, Pati Defisit Sendiri - Sawila.id

Infodagang.com, PATI – Laporan realisasi anggaran tahun 2025 menunjukkan dinamika fiskal yang kontras di wilayah eks-Karesidenan Pati.

Berdasarkan data terbaru di situs Kemenkeu RI, Kabupaten Rembang berhasil mencatatkan performa efisiensi terbaik, sementara Kabupaten Pati menjadi satu-satunya wilayah yang harus menghadapi rapor merah dalam keseimbangan fiskal.

Rembang: Sang Jawara Surplus

Meskipun memiliki angka Pendapatan Daerah terendah di angka Rp1.754,56 Miliar, Kabupaten Rembang justru tampil sebagai wilayah paling “sehat” secara manajerial.

Dengan belanja yang hanya dipatok sebesar Rp1.550,77 Miliar, Rembang mengantongi surplus sebesar Rp203,79 Miliar.

Angka ini melampaui capaian Grobogan dan Jepara, menunjukkan bahwa efisiensi penyerapan anggaran di Rembang sangat terjaga di tengah keterbatasan pendapatan.

Anomali Pati: Pendapatan Tertinggi, Namun Defisit

Kabupaten Pati mencatatkan angka Pendapatan Daerah tertinggi di antara enam kabupaten lainnya, yakni mencapai Rp2.645,49 Miliar.

Namun, ambisi pembangunan atau beban operasional yang tinggi membuat Belanja Daerah Pati membengkak hingga Rp2.686,21 Miliar.

Akibatnya, Pati mengalami defisit sebesar Rp40,72 Miliar. Ini merupakan satu-satunya angka negatif dalam tabel performa keuangan tahun 2025, yang menandakan ketergantungan pada pembiayaan eksternal atau penggunaan SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) tahun sebelumnya.

Perbandingan Kinerja Fiskal 2025

Berikut adalah rincian performa keuangan daerah (dalam Miliar Rupiah):

Daerah Rasio Surplus/Defisit Visualisasi Performa
Rembang 11.61%
Grobogan 8.63%
Jepara 7.56%
Blora 3.01%
Kudus 0.82%
Pati -1.54%

Defisit Anggaran

Kudus dan Strategi “Tight Budgeting”

Kabupaten Kudus terpantau menerapkan strategi anggaran yang sangat ketat (tight budgeting).

engan pendapatan sebesar Rp2.319,40 Miliar dan belanja Rp2.300,36 Miliar, Kudus hanya menyisakan margin tipis sebesar Rp19,04 Miliar.

Angka ini menunjukkan bahwa Kudus memaksimalkan hampir seluruh pendapatannya untuk belanja publik, namun memiliki risiko likuiditas jika terjadi guncangan ekonomi mendadak.

Kesimpulan Analisis

Secara keseluruhan, total surplus dari enam kabupaten ini masih menunjukkan tren positif bagi ekonomi regional.

Namun, defisit yang dialami Pati menjadi catatan penting bagi pembuat kebijakan di level provinsi untuk mengevaluasi apakah besarnya belanja tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di lapangan. (red)

Advertisement

Next Article

Viral! Juara Liga Desa Pati 2025 Hanya Dihadiahi 2 Dus Chiki

Traktir Jurnalis Kopi
Suka dengan tulisan jurnalis ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan berita berkualitas.
Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar.
×

Dukung Jurnalisme Kami

Pilih nominal dukungan Anda untuk menyemangati tim redaksi kami.

Rp 10k
Rp 25k
Rp 50k
Secure Payment by DOKU

Halo Pembaca!

Iklan membantu kami membiayai jurnalisme berkualitas. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan Ad-Blocker kamu di situs ini ya. Terima kasih! 🙏

Lanjut Membaca? Kembali ke posisi terakhir Anda.