Eksplorasi INFODAGANG.COM

Analisis Fiskal APBD

Perbandingan Realisasi Mei — Evaluasi Kinerja Pendapatan & Belanja Daerah

Periode: Januari – Mei
Tahun: 2024 / 2025 / 2026
Unit: BPKAD
Laporan: Mei 2026
01 — Ringkasan Eksekutif

Gambaran Umum Fiskal

Perbandingan realisasi APBD posisi Mei selama tiga tahun menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: setelah perbaikan signifikan dari 2024 ke 2025, kinerja fiskal 2026 mengalami penurunan tajam. Realisasi total pendapatan 2026 hanya mencapai 15,77% dari anggaran — terendah dalam tiga tahun — sementara target PAD 2026 justru dipasang tertinggi (Rp 612,3 miliar).

2024 — s.d. Mei
Rp 1.008,5 M
35,35% dari anggaran Rp 2.853,0 M
Moderat
2025 — s.d. Mei
Rp 1.112,1 M
38,88% dari anggaran Rp 2.860,2 M
Terbaik
2026 — s.d. Mei
Rp 428,8 M
15,77% dari anggaran Rp 2.719,9 M
Kritis

Secara ideal, realisasi pada akhir Mei seharusnya mendekati 41,7% (5 dari 12 bulan). Hanya 2025 yang mendekati ekspektasi tersebut. Tahun 2026 tertinggal sangat jauh, bahkan untuk komponen Transfer Pusat (TKDD) yang biasanya lebih pasti pun hanya terserap 16,05%.

02 — Data Komparatif

Realisasi APBD Perbandingan Mei

A. Pendapatan Daerah

Komponen Anggaran 2024 Realisasi 2024 % Realisasi 2025 % Realisasi 2026 %
Pendapatan Daerah 2.853.009 1.008.483 35,35% 1.112.102 38,88% 428.848 15,77%
PAD (Total) 415.281 82.755 19,93% 243.643 40,49% 111.757 18,25%
Pajak Daerah 141.529 47.659 33,67% 103.135 35,50% 78.253 29,18%
Retribusi Daerah 235.831 7.300 3,10% 116.510 41,87% 15.673 5,14%
Hasil Kelola Kekayaan 29.863 19.378 64,89% 15.412 51,61% 15.716 43,54%
Lain-Lain PAD Sah 8.057 8.418 104,48% 8.587 280,68% 2.115 62,79%
TKDD (Transfer Pusat) 2.174.402 840.919 38,67% 801.270 37,70% 317.091 16,05%
Pendapatan Lainnya 263.326 84.808 32,21% 67.189 50,48% 0 0,00%

*Anggaran menggunakan angka 2024. Satuan: Juta Rupiah.

B. Belanja Daerah

Komponen Anggaran 2024 Realisasi 2024 % Realisasi 2025 % Realisasi 2026 %
Belanja Daerah 3.097.115 878.458 28,36% 903.996 28,95% 587.019 20,47%
Belanja Pegawai 1.213.568 429.872 35,42% 441.021 32,40% 405.912 30,14%
Belanja Barang & Jasa 753.247 129.887 17,24% 143.831 24,37% 103.935 16,17%
Belanja Modal 272.465 9.830 3,61% 30.067 6,36% 2.709 1,02%
Belanja Lainnya 857.835 308.869 36,01% 289.077 41,39% 74.463 12,17%

*Anggaran menggunakan angka 2024. Satuan: Juta Rupiah.

03 — Analisis PAD

Kinerja BPKAD dalam Perumusan PAD

Capaian PAD per Tahun (% dari Target)

2024

Pajak Daerah33,67%
Retribusi3,10%
Kelola Kekayaan64,89%
Lain-Lain PAD104,48%

2025

Pajak Daerah35,50%
Retribusi41,87%
Kelola Kekayaan51,61%
Lain-Lain PAD280,68%

2026

Pajak Daerah29,18%
Retribusi5,14%
Kelola Kekayaan43,54%
Lain-Lain PAD62,79%

Rasio Kemandirian Fiskal (PAD / Total Pendapatan Realisasi)

2024
8,21%
2025
21,91%
2026
26,05%

Catatan: Rasio 2026 tampak lebih tinggi karena penyebut (total pendapatan) sangat kecil akibat rendahnya realisasi TKDD, bukan karena PAD meningkat secara absolut.

Evaluasi Penetapan Target PAD oleh BPKAD

Indikator 2024 2025 2026
Target PAD (Juta Rp) 415.281 601.732 612.272
Realisasi PAD (Juta Rp) 82.755 243.643 111.757
Gap / Shortfall (Juta Rp) 332.526 358.089 500.515
Capaian PAD (%) 19,93% 40,49% 18,25%
Kenaikan Target YoY +44,9% +1,7%
04 — Temuan Kritis

Penilaian & Catatan Kritis

🔴 Krisis Realisasi 2026 — Pendapatan Hanya 15,77%
Total pendapatan s.d. Mei 2026 hanya Rp 428,8 miliar dari anggaran Rp 2.720 miliar. TKDD (transfer pusat) yang seharusnya menjadi tulang punggung pun hanya terserap 16,05% — mengindikasikan keterlambatan pencairan dana transfer dari pemerintah pusat yang bersifat sistemik dan di luar kendali langsung BPKAD.
🔴 Retribusi Daerah — Konsisten Bermasalah di Tahun Awal
Retribusi 2024 hanya 3,10% dan 2026 hanya 5,14%, sementara 2025 mencapai 41,87%. Anomali ini menunjukkan bahwa kinerja retribusi sangat bergantung pada faktor tertentu yang tidak konsisten — perlu audit apakah objek retribusi, tarif, atau mekanisme pemungutan telah berubah antartahun.
⚠️ Target PAD 2026 Terlalu Ambisius
Target PAD 2026 dipasang Rp 612,3 miliar — tertinggi dalam tiga tahun — naik 1,7% dari 2025. Namun capaian hanya 18,25%. Gap shortfall mencapai Rp 500,5 miliar. Ini mengindikasikan perumusan target BPKAD tidak cukup berbasis analisis kapasitas fiskal riil dan tren historis realisasi.
⚠️ Belanja Modal Sangat Rendah di 2024 dan 2026
Belanja modal 2024 hanya 3,61% dan 2026 hanya 1,02% dari anggaran. Ini berdampak pada pelambatan pembangunan infrastruktur. Sementara 2025 lebih baik di 6,36%, masih jauh dari ideal 41,7% di pertengahan tahun.
✔️ 2025 — Tahun Kinerja Terbaik
Capaian PAD 40,49%, total pendapatan 38,88%, retribusi 41,87%, dan lain-lain PAD melampaui target 280,68%. BPKAD berhasil mengeksekusi target dengan sangat baik di 2025. Praktik terbaik tahun ini perlu diidentifikasi dan direplikasi.
✔️ Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah — Tren Positif Konsisten
Komponen ini menunjukkan pengelolaan aset daerah yang semakin baik dengan capaian 43,54% (2026), 51,61% (2025), dan 64,89% (2024). Perlu terus diperkuat sebagai sumber PAD yang stabil.
ℹ️ Ketergantungan TKDD — Masalah Struktural Jangka Panjang
Di ketiga tahun, transfer pusat mendominasi 72–83% pendapatan daerah. Kemandirian fiskal (rasio PAD terhadap total pendapatan) masih sangat rendah. Daerah rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal pusat sebagaimana terlihat jelas di 2026.
05 — Kesimpulan & Rekomendasi

Penutup

Berdasarkan analisis tiga periode Mei (2024, 2025, 2026), kinerja fiskal daerah memperlihatkan volatilitas yang tinggi dengan ketergantungan besar terhadap transfer pusat. Tahun 2025 menjadi benchmark kinerja terbaik, sementara 2026 memerlukan perhatian dan intervensi segera.

Skor Kinerja 2024
C+
Moderat — PAD underperform, TKDD cukup baik
Skor Kinerja 2025
A
Terbaik — semua komponen utama di atas rata-rata
Skor Kinerja 2026
D
Kritis — TKDD dan retribusi sangat rendah

Rekomendasi untuk BPKAD

1
Audit retribusi 2026 — investigasi penyebab capaian 5,14% dan perbaiki mekanisme pemungutan segera.
2
Review metodologi penetapan target PAD — gunakan analisis kapasitas fiskal berbasis data 3–5 tahun terakhir, bukan proyeksi optimistis.
3
Koordinasi aktif dengan pemerintah pusat — percepat pencairan TKDD yang menjadi sumber dominan pendapatan daerah.
4
Replikasi praktik terbaik 2025 — identifikasi faktor penyebab keberhasilan retribusi dan lain-lain PAD di 2025 dan terapkan secara sistematis.
5
Diversifikasi sumber PAD — kurangi ketergantungan pada transfer pusat melalui pengembangan aset daerah, digitalisasi pajak/retribusi, dan kerjasama investasi daerah.

Analisis Fiskal APBD Perbandingan Mei 2024–2026
Diterbitkan: Mei 2026 | Data: BPKAD

Halo Pembaca!

Iklan membantu kami membiayai jurnalisme berkualitas. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan Ad-Blocker kamu di situs ini ya. Terima kasih! 🙏