Infodagang.com, JAKARTA – Analisis valuasi, khususnya rasio Price-to-Earnings (P/E Ratio), adalah barometer krusial bagi investor untuk menilai apakah pasar overvalued (mahal), fairly valued (wajar), atau undervalued (murah).
Perbandingan P/E di titik-titik krusial dapat menjelaskan sejauh mana sentimen optimisme Menkeu Purbaya saat ini tercermin dalam harga saham.
Berikut adalah perbandingan P/E Ratio IHSG pada dua titik krisis historis dibandingkan dengan valuasi saat ini (Oktober 2025):
| Periode Pasar | IHSG Penutupan | P/E Ratio (Indikatif) | Sentimen Pasar |
| Akhir 2008 | 1.355,41 | 8,07 kali | Murah (Tertekan). Pasar sangat undervalued akibat Global Financial Crisis dan kasus domestik Bakrie. Valuasi rendah ini menjadi pemicu rebound fantastis 2009. |
| Akhir 2020 | 5.979,03 | 23 – 25 kali | Mahal (Ekspektatif). P/E sempat melonjak tinggi karena laba perusahaan anjlok parah akibat COVID-19, sementara harga saham pulih cepat berkat market liquidity dan optimisme vaksin. Valuasi didorong oleh ekspektasi, bukan laba riil. |
| Oktober 2025 | 8.092,63 | 15 – 18 kali | Wajar (Normalisasi). Pasar kembali ke rata-rata historis 15-18 kali. Didukung laba perusahaan yang sudah pulih pasca-pandemi dan suku bunga yang mulai terkendali. |
Catatan Valuasi: P/E Ratio bersifat dinamis dan bervariasi antar sumber data. Angka di atas adalah indikasi P/E Trailing (berdasarkan laba 12 bulan terakhir) pada periode terkait.
Implikasi Valuasi terhadap Proyeksi Menkeu Purbaya
1. Valuasi 9.000 (Jangka Pendek)
Jika IHSG mencapai 9.000 pada akhir 2025, hal itu dapat terjadi melalui dua skenario utama:
- Skenario Sehat: Laba perusahaan (EPS) tumbuh signifikan di 2025. P/E Ratio tetap di kisaran 15-18 kali, menunjukkan kenaikan harga saham dibenarkan oleh fundamental perusahaan. (Valuasi Wajar)
- Skenario Berisiko: Kenaikan didorong oleh sentimen dan likuiditas (seperti 2020). Jika EPS stagnan, P/E Ratio bisa melonjak ke di atas 20 kali, menempatkan pasar dalam zona mahal dan rawan koreksi teknikal.
2. Valuasi 32.000 (Jangka Panjang)
Proyeksi IHSG 32.000 di tahun 2035 menuntut stabilitas P/E Ratio di level saat ini (sekitar 17 kali).
- Untuk mencapai target 32.000 dengan P/E 17 kali, Laba Per Saham Gabungan (EPS) IHSG harus meningkat sekitar 4 kali lipat dari level 2025, sejalan dengan kenaikan indeks 4 kali lipat.
- Hal ini akan terwujud hanya jika sektor-sektor utama, khususnya perbankan, energi hijau, dan infrastruktur digital, mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan laba (EPS Growth) mendekati 15% per tahun selama satu dekade penuh.
Kesimpulan untuk Investor:
Pernyataan Menkeu Purbaya bahwa IHSG akan “to the moon” bukanlah sinyal untuk mengabaikan fundamental. Valuasi saat ini (15-18x) masih wajar.
Namun, untuk mencapai target yang lebih tinggi, investor harus selektif, berfokus pada saham-saham blue chip yang memiliki model bisnis kuat, posisi dominan di pasar, dan prospek pertumbuhan laba (EPS) yang solid, karena merekalah yang akan membenarkan kenaikan P/E di masa depan.





Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE