Jejak Kepemimpinan Pakubuwono XIII: Raja yang Menyatukan Dua Kubu Keraton Solo
0:00
--:--
Jejak Kepemimpinan Pakubuwono XIII: Raja yang Menyatukan Dua Kubu Keraton Solo
Eksplorasi INFODAGANG.COM
Infodagang.com / Inspirasi

Jejak Kepemimpinan Pakubuwono XIII: Raja yang Menyatukan Dua Kubu Keraton Solo

X
Jejak Kepemimpinan Pakubuwono XIII Raja yang Menyatukan Dua Kubu Keraton Solo

Infodagang.com, SURAKARTA – Kepergian Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi pada Minggu (2/11/2025) bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga mewariskan sebuah jejak penting dalam sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat: rekonsiliasi dan upaya pemersatu keluarga Keraton.

Perjalanan PB XIII dalam memimpin Keraton Solo selama 21 tahun (sejak 2004) dikenal penuh tantangan.

Beliau naik takhta di tengah pusaran konflik internal yang membelah Keraton menjadi dua kubu setelah mangkatnya Pakubuwono XII pada 2004.

Menghadapi “Raja Kembar” dan Islah 2012

Konflik paling sengit yang mewarnai awal kepemimpinan beliau adalah dualisme takhta. Setelah PB XII wafat tanpa putra mahkota yang jelas, dua putranya dari ibu berbeda, yaitu KGPH Hangabehi (yang kemudian menjadi PB XIII) dan KGPH Tedjowulan, sama-sama mengklaim sebagai raja yang sah. Kondisi ini dikenal publik sebagai era “Raja Kembar” di Keraton Solo.

Dualisme ini berlangsung selama sekitar delapan tahun, menggerus marwah Keraton dan menghambat kegiatan adat.

Titik balik penting terjadi pada tahun 2012, ketika rekonsiliasi akhirnya tercapai berkat mediasi dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah.

Dalam momen islah yang bersejarah tersebut, KGPH Tedjowulan secara resmi mengakui gelar Pakubuwono XIII menjadi milik KGPH Hangabehi.

Sebagai bentuk rekonsiliasi, Tedjowulan kemudian didapuk menjadi mahamenteri dengan gelar KGPH Panembahan Agung.

Langkah ini menjadi warisan terbesar PB XIII: semangat untuk mengesampingkan perbedaan demi menjaga keutuhan dan martabat Keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Peran Sentral dalam Pelestarian Budaya dan Revitalisasi

Setelah konflik internal mereda, fokus kepemimpinan PB XIII beralih kuat pada pelestarian budaya dan pemulihan fisik Keraton.

  • Menghidupkan Adat: Beliau berperan sentral dalam menghidupkan kembali dan memimpin berbagai upacara adat besar Keraton yang sempat meredup, seperti Sekaten, Kirab 1 Sura, Tingalan Jumenengan Dalem, dan kegiatan adat lainnya.
  • Revitalisasi Keraton: Pada masa kepemimpinannya, PB XIII juga mengawal upaya revitalisasi besar-besaran kawasan Keraton, termasuk penataan Alun-alun Utara dan Selatan, yang menunjukkan komitmen beliau dalam memulihkan fisik istana agar kembali megah.
  • Penetapan Putra Mahkota: Dedikasi beliau juga ditandai dengan penobatan putranya, KGPH Purbaya, sebagai Putra Mahkota Kasunanan Surakarta pada tahun 2022, memastikan kesinambungan kepemimpinan di masa mendatang.

Sosok Sri Susuhunan Pakubuwono XIII dikenang sebagai raja yang tenang, bersahaja, dan memegang teguh komitmen untuk melestarikan tradisi luhur Jawa di tengah arus modernitas.

Wafatnya beliau mengakhiri satu babak penting dalam sejarah Keraton Surakarta, meninggalkan harapan agar semangat persatuan yang telah beliau bangun dapat terus dijaga oleh generasi penerusnya. (red)

Advertisement

Next Article

Bupati Sudewo Tinjau Hulu Sungai dan Jembatan Kritis, Target Tuntas Awal 2026

Traktir Jurnalis Kopi
Suka dengan tulisan jurnalis ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan berita berkualitas.
Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar.
×

Dukung Jurnalisme Kami

Pilih nominal dukungan Anda untuk menyemangati tim redaksi kami.

Rp 10k
Rp 25k
Rp 50k
Secure Payment by DOKU

Halo Pembaca!

Iklan membantu kami membiayai jurnalisme berkualitas. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan Ad-Blocker kamu di situs ini ya. Terima kasih! 🙏

Lanjut Membaca? Kembali ke posisi terakhir Anda.