Infodagang.com, JEPARA – Hujan deras yang mengguyur kawasan lereng Gunung Muria kembali memicu bencana.
Warga Dukuh Kemiren, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, terpaksa bahu-membahu menyingkirkan material tanah akibat longsor susulan kedua yang terjadi pada Minggu, 11 Januari 2026.
Longsoran kali ini dilaporkan menutup total akses jalan utama yang menghubungkan antar-dukuh dan jalur pendakian menuju Puncak 29, salah satu destinasi unggulan di desa wisata tersebut.
Tebing 15 Meter Ambrol
Material longsor berasal dari tebing setinggi 15 meter yang tidak kuat menahan debit air setelah hujan lebat mengguyur wilayah Keling sejak Sabtu malam.
Akibatnya, akses jalan di Dukuh Duplak dan Dukuh Petung sempat terisolasi karena tertutup tumpukan tanah dan bebatuan.
Kapolsek Keling, AKP Slamet Raharjo, memimpin langsung personel kepolisian untuk turun ke lapangan membantu warga.
Mengingat alat berat yang sulit menjangkau lokasi secara instan, evakuasi dilakukan secara manual.
“Kami bersama warga bergotong royong membersihkan material menggunakan cangkul dan alat seadanya agar jalan setidaknya bisa dilalui kendaraan roda dua terlebih dahulu,” ujar AKP Slamet.
Ancaman di Balik Keindahan “Desa Tersembunyi”
Desa Tempur dikenal luas sebagai “Desa Tersembunyi” yang menawarkan pesona alam luar biasa.
Lokasinya yang dikelilingi perbukitan menjadikannya rumah bagi situs bersejarah seperti Candi Angin dan Candi Bubrah, serta wisata alam Bukit Bejangan.
Namun, letak geografis ini pula yang membuat Tempur menjadi zona rawan bencana saat musim penghujan tiba.
Pihak kepolisian pun mengeluarkan peringatan tegas bagi warga maupun wisatawan yang berada di lokasi.
“Kami mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan. Mengingat cuaca masih belum stabil, kami minta masyarakat menjauhi area rawan longsor, terutama di bawah tebing curam,” tambah Kapolsek.
Hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan masih terus dilakukan.
Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, kerusakan infrastruktur jalan menjadi kerugian utama yang dirasakan warga dan pelaku wisata di Desa Tempur. (red)







Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE