Infodagang.com, JAKARTA – Tahun 2026 akan menjadi tahun yang istimewa bagi umat Muslim dan pecinta astronomi di Indonesia.
Pasalnya, dua fenomena gerhana besar akan terjadi berdekatan dengan momen bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, yakni Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Bulan Total.
1. Gerhana Matahari Cincin (17 Februari 2026)
Fenomena pertama adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang diprediksi terjadi pada 17 Februari 2026.
Momen ini bertepatan hanya satu atau dua hari sebelum memasuki awal puasa Ramadan (1 Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026).
-
Wilayah Pengamatan: Sayangnya, jalur “Cincin Api” ini hanya akan melintasi wilayah Antartika dan Samudra Hindia bagian selatan.
-
Visibilitas di Indonesia: Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena ini, baik secara total maupun parsial, karena posisi matahari sudah terbenam saat puncak gerhana terjadi di koordinat tersebut. Namun, fenomena ini menjadi penanda astronomis penting menjelang Sidang Isbat penentuan awal Ramadan.
2. Gerhana Bulan Total “Blood Moon” (3 Maret 2026)
Berbeda dengan gerhana matahari, Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan terjadi pada 3 Maret 2026 dapat disaksikan dengan jelas dari seluruh wilayah Indonesia.
Fenomena ini terjadi tepat di pertengahan bulan puasa, yakni sekitar tanggal 13 Ramadan 1447 H.
Pada puncak gerhana, bulan akan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan umbra bumi, sehingga permukaannya akan tampak berwarna merah kecokelatan yang sering disebut sebagai Blood Moon.
Jadwal Waktu Pengamatan di Indonesia (WIB):
-
Awal Gerhana Parsial: 16:50 WIB (Bulan mulai tertutup bayangan)
-
Puncak Gerhana Total: 18:33 WIB (Bulan tampak merah sempurna)
-
Akhir Gerhana Parsial: 20:17 WIB
-
Akhir Gerhana Penumbra: 21:23 WIB
Catatan untuk Pengamat: Di wilayah Indonesia bagian Barat (WIB), bulan akan terbit dalam kondisi sudah tergerhana. Waktu terbaik untuk mengamati adalah sesaat setelah berbuka puasa, di mana bulan akan tampak memerah di ufuk timur.
Persiapan Ibadah dan Pengamatan
Munculnya gerhana di bulan Ramadan sering kali diikuti dengan pelaksanaan Shalat Khusuf (Shalat Gerhana Bulan) di masjid-masjid.
Para ahli astronomi menyarankan masyarakat untuk mencari lokasi pengamatan yang bebas dari penghalang di ufuk timur agar dapat menyaksikan detik-detik terbitnya bulan merah tersebut. (red)








Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE