Infodagang.com, PATI – Gedung DPRD Kabupaten Pati kembali menyajikan pertunjukan menarik pada Rabu (19/11/2025).
Bukan soal adu argumen yang tajam atau solusi brilian bagi rakyat, melainkan sebuah drama bisu yang diperankan dengan apik oleh dua wakil rakyat terhormat: Samsi dari Fraksi PDIP dan Muntamah dari Fraksi PKB.
Dalam audiensi bersama sejumlah aktivis yang menuntut pembebasan rekan mereka, kehadiran kedua anggota dewan ini justru memancing tanda tanya besar ketimbang memberikan jawaban.
Muntamah: Singa yang Kehilangan Auman? Sorotan utama tertuju pada Muntamah.
Politisi PKB yang dulu dikenal memiliki vokal lantang bak singa saat membela Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), kini tampil dengan persona baru: pendiam dan “sedikit” kurang disiplin waktu.
Ia hadir terlambat saat audiensi sudah bergulir. Ketika duduk di kursinya, aura garang yang dulu melekat seolah menguap begitu saja.
Tak ada pembelaan berapi-api, tak ada argumen taktis. Muntamah memilih diam seribu bahasa, seolah kehadiran fisiknya saja sudah cukup sebagai sedekah bagi para konstituen, tanpa perlu menyumbangkan buah pikiran.
Publik pun bertanya-tanya, apakah jam tangan beliau rusak, ataukah keberpihakannya yang sedang “rusak”?
Samsi: Hadir di Saat yang (Tidak) Tepat Di sisi lain meja, duduklah Samsi. Kehadirannya hari ini patut diberi apresiasi setengah hati.
Mengapa? Karena ini adalah kemajuan pesat dibandingkan saat Rapat Paripurna Hak Angket lalu, di mana sosoknya menghilang bak ditelan bumi justru saat suaranya sangat berharga untuk voting.
Namun, hadirnya Samsi hari ini tampaknya hanya sebatas raga. Sepanjang audiensi yang membahas nasib aktivis Teguh dan Supriyono Bothok, Samsi duduk manis, tenang, dan seperti rekannya Muntamah sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada masukan, tidak ada pendapat. Ia sukses mempraktikkan art of doing nothing dengan sempurna.
Wakil Rakyat atau Penonton VIP? Pemandangan ini menjadi ironi yang menggelitik di tengah tuntutan aktivis.
Ketika rakyat membutuhkan wakil yang tak hanya pandai duduk di kursi empuk tapi juga berani bersuara, dua figur ini justru menyuguhkan aksi diam yang memukau.
Samsi yang “muncul tapi tenggelam” dan Muntamah yang “telat dan tumpul” menjadi cerminan sebuah pertanyaan besar: Apakah fungsi legislasi dan pengawasan kini cukup dijalankan dengan teknik telepati?
Bagi para aktivis yang hadir, sikap dingin keduanya seolah menegaskan bahwa dalam panggung politik Pati, keseriusan menanggapi aspirasi rakyat terkadang hanyalah gimmick musiman. Saat butuh dukungan, mereka hadir paling depan; saat ditagih solusi, mereka mendadak lupa cara berbicara. (red)







Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE