Infodagang.com, PATI – Bupati Pati, Sudewo, mengeluarkan instruksi tegas kepada para petani dan pedagang Jeruk Pamelo di wilayah Gembong.
Dalam kunjungan kerjanya, Jumat (2/1), ia meminta praktik memanen buah muda demi mengejar perputaran uang cepat segera dihentikan karena merusak reputasi harga pasar jangka panjang.
Ultimatum ini disampaikan Sudewo saat meninjau langsung kebun Jeruk Pamelo yang menjadi ikon hortikultura Kabupaten Pati.
Menurutnya, potensi Pamelo Pati sangat besar untuk mendominasi pasar premium, asalkan standar operasional panen dijaga ketat.
Ancaman Rusaknya Harga Pasar
“Saya minta kepada kelompok tani dan pedagang agar tidak memetik jeruk saat masih muda. Petiklah jeruk pamelo yang sudah tua,” tegas Sudewo.
Ia menjelaskan logika bisnisnya sederhana: jeruk yang dipetik matang pohon memiliki rasa manis maksimal, tekstur lembut, dan bulir air yang melimpah.
Kualitas inilah yang akan mendongkrak harga jual secara alami.
Sebaliknya, membanjiri pasar dengan buah muda yang sepat hanya akan menjatuhkan citra Pamelo Pati di mata konsumen luar daerah.
Diplomasi Buah Tangan
Keseriusan Sudewo menjaga kualitas ini bukan tanpa alasan. Jeruk Pamelo kini dijadikan “alat diplomasi” Pemerintah Kabupaten Pati ke tingkat provinsi.
Sudewo mengungkapkan bahwa varietas unggulan Gembong yang diklaim tanpa biji, tidak pahit, dan tak berserat telah dikirimkan khusus kepada Gubernur Jawa Tengah, Luthfi, serta para kepala daerah se-Jawa Tengah.
“Inilah jeruk pamelo yang kemarin saya kirim kepada Pak Gubernur. Rasanya manis, tidak berserat, dan tidak berbiji. Ini kekayaan geografis kita yang harus dijaga standardisasinya,” pungkasnya. (red)






Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE