Infodagang.com, PATI – Di saat pemerintah daerah sibuk berfalsafah soal optimalisasi pajak dan perbaikan infrastruktur jalan, warga Kabupaten Pati justru dihantui kecemasan yang lebih purba: Banjir.
Bagi ribuan warga di Bumi Mina Tani, banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan “tamu tak diundang” yang setia mengetuk pintu rumah setiap tahun.
Ironisnya, meski nakhoda pemerintahan (Bupati) silih berganti, solusi permanen untuk masalah ini seolah tenggelam dalam genangan air yang tak kunjung surut.
Masyarakat kini mulai jengah dan menilai pemerintah daerah kehilangan fokus pada masalah yang paling mendesak.
Galian C dan Hutan Gundul: Akar Masalah yang “Dipelihara”
Banjir yang semakin menggila di Pati bukan terjadi tanpa sebab.
Investigasi di lapangan dan keluhan warga merujuk pada dua faktor utama: Penebangan pohon liar dan Galian C ilegal.
“Hutan di atas sudah gundul, air tidak ada yang mengerem. Ditambah galian C yang merusak tatanan resapan. Hasilnya? Air turun semua ke bawah membawa lumpur,” ungkap salah satu warga terdampak di wilayah Juwana.
Kondisi ini diperparah dengan:
-
Drainase Buruk: Sistem pembuangan air di area perkotaan dan pemukiman yang tersumbat dan tidak mencukupi debit air.
-
Normalisasi Sungai: Proyek normalisasi sungai yang selama ini didengungkan dinilai belum menyentuh akar masalah secara konkrit dan menyeluruh.
Menanti Terobosan Sudewo
Kini, harapan disematkan pada kepemimpinan Sudewo.
Warga menanti apakah di bawah kendalinya, Pati akan memiliki cetak biru (blueprint) penanganan banjir yang nyata, atau justru terjebak dalam rutinitas seremoni pemberian bantuan paket sembako saat banjir tiba tanpa ada solusi di hulu.
“Kami tidak butuh mi instan saat banjir, kami butuh air tidak masuk ke rumah kami lagi. Kami menanti terobosan Pak Sudewo,” tegas warga lainnya.
Data Histori Banjir Kabupaten Pati (5 Tahun Terakhir)
Berdasarkan rangkuman data BPBD dan pemberitaan media, berikut adalah potret sejarah kelam banjir di Pati yang cenderung meningkat secara luasan dan durasi:
| Tahun | Periode Terparah | Wilayah Terdampak Utama | Dampak/Ketinggian Air |
| 2021 | Februari | Jatiroto, Sukolilo, Kayen, Gabus | 43 Desa tergenang, ketinggian 30-100 cm. |
| 2022 | Juli & Desember | Margoyoso, Tayu, Juwana | Banjir bandang di Margoyoso (tanggul jebol), puluhan rumah hancur. |
| 2023 | Januari – Maret | Gabus, Juwana, Pati Kota, Jatiroto | Banjir awet hingga 3 bulan di beberapa desa; ribuan hektar sawah fuso. |
| 2024 | Maret | 7 Kecamatan (Gabus, Kayen, dsb) | Jalur Pantura lumpuh; ribuan warga mengungsi. |
| 2025 | Januari (Awal Tahun) | Sukolilo, Kayen, Gabus | Intensitas hujan tinggi, air mulai memasuki pemukiman warga. |
Diawal tahun 2026, dilaporkan setidaknya ada 22 Desa terendam banjir setelah hujan berlarut-larut sejak tanggal 8-12 Januari. (red)







Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE