Infodagang.com, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Danantara resmi memasuki fase ekspansi modal aktif.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengonfirmasi bahwa pihaknya mulai menyalurkan dana investasi sebesar US$12 miliar (sekitar Rp202 triliun) untuk memperkuat portofolio strategis nasional melalui proyek infrastruktur, investasi langsung, dan instrumen pasar publik.
Langkah ini menandai pergeseran fokus Danantara dari konsolidasi aset menuju value creation dan penguatan ketahanan ekonomi nasional pada tahun 2026.
Berikut adalah rincian mandat investasi dan restrukturisasi yang menjadi prioritas:
1. Ekspansi Hilirisasi dan Transisi Energi (Waste-to-Energy)
Danantara mengalokasikan US$6 miliar (Rp101 triliun) untuk mempercepat hilirisasi komoditas.
Proyek ini mencakup pembangunan smelter aluminium, fasilitas smelter grade alumina, hingga produksi energi hijau seperti bioavtur dan bioetanol.
Di sektor EBT, proyek Waste-to-Energy (WtE) di empat kota (Bogor, Bekasi, Denpasar, Yogyakarta) akan memulai groundbreaking pada Maret 2026.
Estimasi belanja modal (capex) untuk satu fasilitas WtE mencapai Rp2,5–3 triliun.
2. Revitalisasi Sektor Tekstil dan Ketahanan Pangan
Guna memitigasi tekanan tarif global, Danantara menyiapkan dana US$6 miliar (Rp101 triliun) untuk pembentukan BUMN Tekstil baru.
Langkah ini dirancang sebagai stimulus pembiayaan bagi industri manufaktur domestik.
Di sektor pangan, investasi sebesar US$1,2 miliar (Rp20 triliun) dikucurkan untuk membangun 12 pabrik peternakan ayam terintegrasi guna menjaga stabilitas harga Day Old Chick (DOC).
3. Investasi Properti Global: Proyek Kampung Haji
Danantara melakukan langkah berani di sektor properti internasional dengan mengakuisisi Hotel Novotel dan lahan seluas 4,4 hektare di Thakher City, Mekkah.
-
Nilai Akuisisi Lahan: ~US$1 miliar (Rp17 triliun).
-
Nilai Akuisisi Hotel: ~US$500 juta (Rp8,4 triliun).
-
Pengembangan Kawasan: Tambahan dana US$800 juta dialokasikan pada kuartal IV-2026 untuk membangun ekosistem layanan haji dan umrah terpadu bagi jemaah Indonesia.
4. Efisiensi Portofolio: Restrukturisasi Besar-besaran BUMN
Dalam upaya optimalisasi aset, Danantara menargetkan pemangkasan jumlah entitas BUMN secara drastis dari 1.000 perusahaan menjadi hanya 200 entitas.
Fokus terdekat adalah penyelesaian merger BUMN Karya yang ditargetkan rampung pada kuartal I-2026.
Ke depan, Danantara akan membatasi injeksi modal bersifat penyelamatan (bailout) dan lebih memprioritaskan investasi yang memberikan nilai tambah ekonomi.
5. Struktur Pendanaan dan Likuiditas
Untuk mendukung pipeline investasi masif ini, Danantara telah menyiapkan strategi pendanaan yang terdiversifikasi:
-
Patriot Bond: Penerbitan kembali pada semester I-2026 dengan target US$1,2 miliar (Rp20 triliun).
-
Global Bond: Sedang dalam tahap pertimbangan untuk menjaring likuiditas pasar internasional.
-
Dividen BUMN: Hingga saat ini, arus kas masuk dari dividen BUMN telah mencapai US$5 miliar (Rp84 triliun).
Analisis Ringkas (Untuk Pembaca Ahli)
Langkah Danantara mencerminkan strategi Sovereign Wealth Fund (SWF) yang agresif namun terukur.
Dengan menggabungkan instrumen utang (Patriot Bond) dan optimalisasi dividen, Danantara mencoba menyeimbangkan antara tanggung jawab pembangunan nasional (developmental mandate) dengan imbal hasil komersial (commercial return).








Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE