Infodagang.com, SEMARANG – Kinerja investasi di Jawa Tengah (Jateng) menunjukkan akselerasi yang signifikan. Hingga kuartal III (Januari–September) 2025, realisasi investasi di provinsi ini berhasil menembus angka Rp66,13 triliun, mencapai 84,42 persen dari target tahunan yang ditetapkan.
Capaian impresif ini menegaskan posisi Jateng sebagai destinasi investasi unggulan, sekaligus menyerap total 326.462 tenaga kerja, menjadikannya yang tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari, menjelaskan bahwa akumulasi kinerja ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor.
Khusus pada Kuartal III (Juli–September), investasi tercatat sebesar Rp20,55 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 104.089 orang.
“Ini capaian yang luar biasa dan membuktikan bahwa Jawa Tengah adalah salah satu lokasi investasi terbaik, ditunjang oleh iklim bisnis yang kondusif,” ujar Sakina, Selasa (21/10/2025).
Dominasi Sektor Padat Karya
Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) masih didominasi oleh sektor-sektor manufaktur padat karya, seperti industri alas kaki, diikuti oleh industri karet dan plastik, serta tekstil.
Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terkonsentrasi pada sektor makanan dan minuman.
Sektor-sektor ini menjadi kunci utama tingginya serapan tenaga kerja.
Secara statistik, penyerapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jateng mencapai 326.462 pekerja, melampaui Jawa Barat (303.469 pekerja), Jawa Timur (204.796 pekerja), Banten (153.595 pekerja), dan DIY (17.309 pekerja).
Infrastruktur dan Ekspansi Kawasan Industri
Faktor utama yang menjadi pertimbangan investor, khususnya yang berorientasi ekspor, adalah ketersediaan dan kemudahan akses transportasi.
Sakina menyebutkan, empat wilayah dengan kawasan industri yang paling diminati investor adalah Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Batang.
“Akses pelabuhan atau bandara, serta kemudahan pengiriman barang, utamanya di kawasan yang terhubung jalan bebas hambatan, dari Pantura Brebes hingga Karanganyar, itu yang menjadi incaran utama,” tegasnya.
Merespons tren ini, DPMPTSP mendukung penuh inisiatif Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, untuk mengembangkan kawasan industri di wilayah potensial lainnya, khususnya di Jawa Tengah bagian selatan (Barlingmascakeb).
Potensi pengembangan ini mencakup kabupaten seperti Cilacap, Banyumas, Kebumen, dan Purbalingga, yang diharapkan dapat menyebar luaskan dampak ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Adapun negara-negara penyumbang investasi asing terbesar sepanjang Januari-September 2025 didominasi oleh negara Asia, yakni Hongkong, Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, dan Samoa Barat. (red)








Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE