Infodagang.com, PATI – Kinerja fiskal Kabupaten Pati tahun anggaran 2025 menutup buku dengan catatan anomali.
Di satu sisi, realisasi Pajak Daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lain yang Sah mencatatkan performa “bullish” yang mengesankan.
Namun, secara makro, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) justru mengalami tekanan defisit akibat realisasi belanja yang melampaui pendapatan.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan RI per tanggal 30 Desember 2025, berikut adalah bedah kinerja keuangan Kabupaten Pati:
Sektor Pendapatan: Antara Surplus dan Koreksi
Kabar baik datang dari sektor Pajak Daerah yang berhasil menembus angka Rp304,02 Miliar.
Angka ini mencerminkan surplus realisasi sebesar 4,6% di atas target yang ditetapkan (Year-on-Target).
Sentimen positif ini diperkuat oleh lonjakan fantastis pada pos Lain-lain PAD yang Sah, yang mencetak rekor kenaikan 300% dari target.
Lonjakan ini mengindikasikan adanya efisiensi atau windfall income (pendapatan tak terduga) yang signifikan pada aset-aset daerah.
Namun, rapor merah terlihat pada sektor Retribusi Daerah. Sektor ini mengalami koreksi atau underperform sebesar -4,55%, dengan realisasi hanya mencapai Rp265,6 Miliar dari target Rp278,2 Miliar.
Pelemahan ini menjadi sinyal perlunya evaluasi terhadap optimalisasi layanan publik berbayar di wilayah tersebut.
Secara agregat, total Pendapatan Daerah Kabupaten Pati tahun 2025 tercatat sebesar Rp2.645 Miliar (Rp2,64 Triliun).
Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar 7,5% dibandingkan target pendapatan keseluruhan yang direncanakan.
Neraca Defisit: “Lampu Kuning” bagi BPKAD
Meskipun terdapat pos pendapatan yang outperform, likuiditas daerah berada dalam tekanan.
Data menunjukkan realisasi Belanja Daerah membengkak hingga Rp2.668 Miliar (Rp2,66 Triliun).
Dengan komposisi pendapatan sebesar Rp2.645 Miliar berbanding belanja Rp2.668 Miliar, Kabupaten Pati secara teknis mengalami defisit anggaran sekitar Rp23 Miliar.
| POS ANGGARAN | TARGET (ESTIMASI) | REALISASI | PERTUMBUHAN / GAP | STATUS |
| Pajak Daerah | Rp 290,65 Miliar* | Rp 304,02 Miliar | ▲ +4,60% | ✅ SURPLUS |
| Retribusi Daerah | Rp 278,20 Miliar | Rp 265,60 Miliar | ▼ -4,55% | ⚠️ KOREKSI |
| Lain-lain PAD Sah | (Tidak disebutkan) | (Tidak disebutkan) | ▲ +300,00% | 🚀 REKOR |
| Total Pendapatan | Rp 2.859,46 Miliar* | Rp 2.645,00 Miliar | ▼ -7,50% | 🔻 UNDERPERFORM |
| Belanja Daerah | (Sesuai Pagu) | Rp 2.668,00 Miliar | – | 💸 REALISASI TINGGI |
| NERACA (Surplus/Defisit) | – | (Rp 23,00 Miliar) | – | 🚨 DEFISIT |
Proyeksi dan Rekomendasi 2026
Kondisi ini menjadi early warning bagi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) serta Bupati Pati, Sudewo.
Defisit ini menuntut adanya strategi penyehatan fiskal di tahun 2026, baik melalui rasionalisasi belanja modal maupun intensifikasi retribusi yang sempat terkoreksi.
Tanpa mitigasi risiko yang tepat, celah defisit (fiscal gap) ini dapat membebani ruang fiskal daerah di tahun mendatang. (red)








Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE