Keroncong Protol: Saat Musik Tradisi Mendobrak Gengsi Modern
0:00
--:--
Keroncong Protol: Saat Musik Tradisi Mendobrak Gengsi Modern
Eksplorasi INFODAGANG.COM
Infodagang.com / Inspirasi

Keroncong Protol: Saat Musik Tradisi Mendobrak Gengsi Modern

X
Keroncong Protol Saat Musik Tradisi Mendobrak Gengsi Modern

Infodagang.com, JAKARTA – Sejak dirilis tahun 2007, lagu “Keroncong Protol” milik Bondan Prakoso & Fade2Black tetap menjadi standar emas dalam keberanian melakukan eksplorasi musik lintas genre.

Namun, jika kita telusuri liriknya lebih dalam, lagu ini bukan sekadar ajakan menyanyi, melainkan sebuah pernyataan sikap terhadap industri dan penikmat musik yang sering kali “jaga gengsi”.

Berikut adalah makna bait demi bait berdasarkan lirik asli “Keroncong Protol”:

1. “Keroncong Mampus Strike Back”

Kalimat pembuka “Keroncong mampus strike back to the town” adalah pernyataan pemberontakan.

Kata “mampus” di sini bukan berarti mati, melainkan istilah slang untuk sesuatu yang “sangat luar biasa” atau “gila”.

Bondan ingin menunjukkan bahwa keroncong yang dianggap kuno bisa kembali ke kota dengan gaya yang jauh lebih gahar.

2. Sindiran buat yang “Pura-pura Diam”

Lirik “You can’t lie, kulihat yang kau sembunyikan… Nanti sampe rumah malah pengen denger lagi” adalah sindiran untuk pendengar yang gengsi mengakui musik lokal.

Banyak orang yang di depan umum bersikap acuh pada musik tradisi, padahal di dalam hati mereka menikmati ritmenya.

3. Filosofi “Blangkon di Kepala”

Bait “Nikmati hidup dengan blangkon di kepala” memiliki makna filosofis yang kuat.

Meski posisi seseorang sudah tinggi (setinggi raja), ia tidak boleh lupa pada akar budayanya (simbol blangkon).

Ini adalah pesan tentang kerendahan hati dan kebanggaan atas identitas lokal setinggi apa pun kesuksesan kita.

4. Menghormati Maestro (Gesang & Bengawan Solo)

Bondan dengan rendah hati mengakui, “Memang tak lebih hebat dari Bengawan Solo, apalagi jika kau dengar alunan Gesang”.

Lirik ini menunjukkan rasa hormat (respect) kepada pakem asli dan sang maestro. Namun, ia meminta pendengar untuk tidak “parno” atau takut dengan perubahan aransemen yang ia bawa.

5. Eksplorasi Anti Monoton

Pada bagian “Sundanis rasa keraton… eksplorasi anti monoton”, Bondan menjelaskan jati diri musiknya.

Ia menggabungkan latar belakangnya (Sundanis/Jawa) dengan aransemen yang tidak membosankan.

Kalimat “protesnya disimpan dulu” adalah pesan tegas agar pendengar menikmati karya seninya secara utuh sebelum menghakimi perubahan yang ia lakukan.

6. “Keroncong Rap Rock Boleh di Adu”

Di bagian akhir, Bondan menegaskan rasa percaya dirinya. Kolaborasi tahun 2007 ini adalah sebuah standar baru.

Ia menantang telinga pendengar bahwa musik campuran (Hybrid) antara tradisional dan modern memiliki kualitas yang mampu bersaing di industri musik mana pun. (red)

Advertisement

Next Article

Viral! Gaya Sederhana Sudewo-Chandra Makan Londor Bareng Warga

Traktir Jurnalis Kopi
Suka dengan tulisan jurnalis ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan berita berkualitas.
Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar.
×

Dukung Jurnalisme Kami

Pilih nominal dukungan Anda untuk menyemangati tim redaksi kami.

Rp 10k
Rp 25k
Rp 50k
Secure Payment by DOKU

Halo Pembaca!

Iklan membantu kami membiayai jurnalisme berkualitas. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan Ad-Blocker kamu di situs ini ya. Terima kasih! 🙏

Lanjut Membaca? Kembali ke posisi terakhir Anda.