Infodagang.com, BOJONEGORO – Di tengah deru mesin dan aliran minyak di perut bumi, masyarakat Bojonegoro punya istilah unik yang kini mulai populer lagi: “Pipo Londo.”
Bukan sekadar sebutan untuk pipa tua peninggalan Belanda, “Pipo Londo” kini menjadi simbol antara teknologi kolonial dan kearifan lokal Jawa yang berpadu dalam denyut industri Migas kota ini.
Istilah itu kerap muncul dari percakapan para pekerja lapangan dan warga sekitar lokasi sumur tua.
“Pipo Londo iku maknane jero, bukan cuma besi penyalur minyak. Tapi lambang perhitungan, keseimbangan, dan tanggung jawab,” ujar seorang warga tua Desa Wonocolo, Rabu 15 Oktober 2025.
Di balik kata “Pipo Londo”, terselip filosofi hitung-hitungan Jawa kuno:
Ping, Poro, Lan, Do — yang berarti dikalikan, dibagi, ditambah, dan dikurangi.
Bagi warga Bojonegoro, rumus sederhana itu menggambarkan neraca kehidupan dan energi: berapa yang diambil dari bumi, dan berapa yang harus dikembalikan untuk kebaikan bersama.
Dalam dunia Migas, filosofi ini terasa relevan.
“Pipo Londo” menjadi pengingat bahwa aliran minyak bukan sekadar persoalan teknis, tapi juga soal etika dan keseimbangan antara hasil produksi dan dampak sosialnya, antara keuntungan dan keadilan bagi masyarakat sekitar.
Bojonegoro, yang dikenal sebagai “Kota Migas”, seakan hidup di antara dua zaman: masa lalu yang ditandai warisan Belanda, dan masa kini yang digerakkan semangat kemandirian energi.
Namun di balik itu semua, masyarakat tetap memegang prinsip lama:
“Ngitung Migas ojo mung dolar lan barrel — tapi uga Ping, Poro, Lan, Do.” (red)






Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE