Infodagang.com, PATI – Sebuah literatur klasik abad ke-19 kembali membuka tabir sejarah panjang wilayah Karesidenan di sekitar Gunung Muria, khususnya wilayah Pati.
Fakta-fakta mengejutkan mengenai tata kota, peperangan, hingga harga kebutuhan pokok di era kolonial terekam jelas dalam buku langka terbitan tahun 1857.
Informasi berharga ini bersumber dari buku berjudul lengkap “Nederlands Oost-Indië, of Beschrijving der Nederlandsche Bezittingen in Oost-Indië” (Hindia Belanda, atau Deskripsi Kepemilikan Belanda di Hindia Timur).
Buku yang ditulis oleh A. J. van der Aa ini diterbitkan di Breda oleh penerbit Broese & Comp pada tahun 1857.
Pada “Bagian Keempat” (Vierde Deel) buku ini, penulis menyertakan ringkasan sejarah perluasan kekuasaan Belanda, lengkap dengan pelat gambar dan peta.
Lantas, apa saja fakta sejarah Pati dan Jepara yang diungkap dalam manuskrip berusia ratusan tahun ini?
Berpindahnya Ibu Kota Karesidenan ke Pati (1810)
Menurut catatan A.J. van der Aa, Pati (yang kala itu kerap dieja Patti atau Pattie) secara resmi ditunjuk sebagai ibu kota karesidenan pada tahun 1810.
Pemindahan ini dilakukan dari Jepara karena alasan strategis.
Jepara yang berada di ujung laut dianggap menyulitkan komunikasi operasional karena tidak dilewati secara langsung oleh jalan raya pos besar (De Groote Postweg).
Pati digambarkan sebagai wilayah padat penduduk yang sangat subur.
Di kota ini, alun-alunnya dikelilingi pepohonan tinggi dengan rumah kediaman residen yang megah.
Buku ini juga mencatat sebuah tragedi pada 20 Oktober 1847, di mana kebakaran hebat di dekat masjid Pati meluluhlantakkan puluhan rumah, tempat ibadah, dan lumbung padi.
Jepara: Dari Pusat Perdagangan hingga Medan Perang VOC
Jika Pati bersinar di abad ke-19, Jepara memiliki sejarah kelam dan heroik di abad-abad sebelumnya.
Buku ini mencatat bahwa Jepara sudah dikenal sebagai kota dagang sejak tahun 800.
Pada awal abad ke-17, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai membangun markas di Jepara. Konflik berdarah sering terjadi.
Pada 1618, markas VOC diserang oleh pasukan Susuhunan Mataram.
Hal ini memicu Gubernur Jenderal J.P. Coen mengirim Komandan Maartenz untuk membakar kota tersebut hingga menjadi abu.
Tak berhenti di situ, pada tahun 1677, Jepara juga sempat direbut secara paksa oleh Laksamana Speelman dari tangan Trunojoyo, tokoh pemberontak asal Madura.
Meskipun kota Jepara disebut sempat mengalami penyusutan populasi dan kemunduran infrastruktur setelah ibu kota dipindah ke Pati dan Semarang, satu hal yang bertahan adalah industri kayunya.
Lebih dari satu abad sebelum buku ini ditulis (berarti sejak awal 1700-an), A.J. van der Aa mencatat bahwa industri penggergajian kayu dan pembuatan lemari jati di Jepara telah berkembang pesat. Mebel berkualitas diekspor ke Batavia dengan harga murah.
Menariknya lagi, buku ini merekam betapa murahnya biaya hidup di pesisir utara Jawa kala itu.
Di pasar Jepara, masyarakat bisa membeli tiga puluh hingga empat puluh ekor ayam hanya dengan satu gulden, dan selusin angsa seharga tiga gulden!
Catatan A.J. van der Aa dalam Nederlands Oost-Indië (1857) menjadi bukti otentik bagaimana dinamika wilayah pesisir utara Jawa Tengah bertransformasi.
Dari stasiun pos kecil seperti Guyangan dan Kali Ampo, pindahnya pusat pemerintahan ke Pati, hingga akar sejarah industri ukir Jepara yang ternyata sudah menopang perekonomian Hindia Belanda sejak ratusan tahun lalu. (red)








Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE