Infodagang.com, PATI – Pemerintah Kabupaten Pati, di bawah kepemimpinan Bupati Sudewo, memperkuat sinergi lintas sektor untuk mendongkrak produktivitas pertanian secara drastis.
Target ambisius 10 ton per hektare melalui metode “10 Ton Bisa” kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan capaian yang mulai dibuktikan oleh sejumlah petani di lapangan.
Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Presentasi Program Unggulan Bidang Pertanian di Ruang Pragolo Setda Kabupaten Pati, Selasa, yang dihadiri lengkap oleh Wakil Bupati, Dandim 0718/Pati, para camat, Dinas Pertanian, PASOPATI, hingga perwakilan kelompok tani.
Rakor ini menjadi panggung evaluasi sekaligus pemantapan strategi bagi seluruh pemangku kepentingan pertanian di Pati.
Bupati Sudewo secara tegas menekankan bahwa kunci keberhasilan adalah kolaborasi total.
“Koordinasi ini adalah sarana kita mengukur sejauh mana metode ‘10 Ton Bisa’ sudah disosialisasikan, diterapkan, dan membuahkan hasil. Alhamdulillah, sudah ada beberapa desa yang membuktikan hasilnya, bahkan sudah bisa 10 ton lebih,” ungkap Sudewo.
Inovasi Mikroba dan Peran TNI
Salah satu terobosan penting yang diangkat dalam rakor adalah peran aktif Komando Distrik Militer (Kodim) 0718/Pati.
Bupati Sudewo memberikan apresiasi tinggi kepada Dandim atas dukungan mereka dalam penerapan Mikroba PA63 WD05.
Menurut Sudewo, penggunaan mikroba ini memberikan dampak signifikan: terbukti mampu meningkatkan hasil panen hingga 2 ton per hektare, sekaligus memperbaiki kualitas tanah, dan bahkan berpotensi memperpendek masa tanam.
“Dengan mikroba PA63 ditambah metode dan pupuk yang tepat, hasilnya bisa maksimal mencapai 10 ton. Ini adalah bukti nyata bahwa keterlibatan TNI membawa inovasi yang presisi bagi petani kita,” jelasnya, menyoroti model sinergi sipil-militer yang efektif.
Fokus Baru: Target Ribuan Hektare Tembakau
Selain fokus pada padi, Bupati Sudewo juga meletakkan perhatian besar pada potensi komoditas lain, yaitu tembakau.
Ia mengungkapkan niat untuk melakukan ekspansi lahan tembakau secara masif pada musim tanam berikutnya.
Saat ini, Pati baru memiliki sekitar 900 hektare lahan tembakau. Namun, Sudewo memasang target yang sangat tinggi:
“Target kami di tahun 2026 mencapai 5.000 hingga 6.000 hektare,” tegasnya.
Sudewo menutup pernyataan dengan optimisme bahwa kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, TNI, dan petani ini akan mampu menempatkan Kabupaten Pati sebagai salah satu lumbung pangan dengan produktivitas terbaik di Jawa Tengah.
“Upaya peningkatan sektor pertanian ini adalah bagian penting dari misi besar kita: mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan petani Pati,” pungkasnya, menegaskan komitmen Pemkab untuk menjadikan petani sebagai pilar utama pembangunan daerah. (red)







Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE